Belajar Bermakna Dalam Implementasi Kurikulum Merdeka

Belajar Bermakna Dalam Implementasi Kurikulum Merdeka

Kota Bogor – Sejak masa pasca pandemi, menteri pendidikan di Indonesia mengeluarkan kurikulum baru yang disebut Kurikulum Merdeka. Kurikulum merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran yang beragam. Kurikulum ini berfokus pada konten yang esensial agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi.

Dalam kurikulum merdeka, sekolah memiliki kebebasan untuk mengembangkan dan mengelola kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan karakteristik peserta didik pada satuan pendidikan. Guru juga memiliki kebebasan dalam mengajar sesuai dengan tahap pencapaian peserta didik. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru dapat menggunakan konsep pembelajaran bermakna.

Belajar bermakna menurut Ausubel (1963) merupakan proses mengaitkan informasi atau materi baru dengan konsep-konsep yang telah ada dalam sturktur kognitif. Sedangkan struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa. Pembelajaran bermakna dalam kurikulum merdeka sangat tepat digunakan, terlebih lagi saat melaksanakan kegiatan P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila). Kegiatan P5 yaitu kegiatan proyek yang dilaksanakan oleh peserta didik secara berkesinambungan dalam jangka waktu tertentu untuk mengenal dan mengelola lingkungan. Pembelajaran bermakna juga dapat dilaksanakan untuk mempraktekkan ilmu atau konsep yang sudah diketahui oleh peserta didik.
Ausubel dalam Dahar (1989) mengemukakan tiga kebaikan dari belajar bermakna, yaitu:

  1. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat.
  2. Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip.
  3. Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa.

Dalam Alkitab, Tuhan Yesus seringkali melakukan pembelajaran bermakna bagaimana mengajarkan kasih kepada manusia. Tidak hanya sekedar materi, Tuhan Yesus juga mengajarkan untuk mempraktekkan pengajaranNya tersebut terhadap lingkungan sekitar kita. Seperti yang tercatat dalam Matius 14:13-21, Yesus berbelas kasihan melihat orang banyak yang sudah berkumpul menantikan Dia. Akhirnya Yesus mengajar dan menyembuhkan orang yang sakit di sana. Saat Yesus mempraktekkan kasihNya, ternyata berdampak bagi orang lain yang melihatnya. Saat hari sudah malam dan orang banyak itu belum makan, diantara mereka hanya ada lima roti dan dua ikan.

Disitu Tuhan Yesus mengajak untuk mempraktekkan kasih yang telah Ia ajarkan, yaitu mau berbagi dengan orang banyak itu. Akhirnya dari lima roti dan dua ikan tersebut Tuhan Yesus mengucap syukur, sehingga cukup dimakan untuk lima ribu orang bahkan ada sisa dua belas keranjang.

Kisah tersebut dapat menunjukkan, jika seorang guru memberikan pembelajaran yang bermakna maka peserta didik akan mudah mengingat bahkan menirukan atau mempraktekkan pembelajaran tersebut terhadap lingkungan peserta didik masing-masing.

Galih Pambudi (2022) menuliskan langkah-langkah kegiatan mengarah pada timbulnya pembelajaran bermakna, yaitu:

  1. Orientasi mengajar tidak hanya mengarah pada pencapaian prestasi, melainkan diarahkan juga untuk mengembangkan sikap dan minat belajar serta potensi peserta didik.
  2. Topik yang dipilih dan dipelajari didasarkan pada pengalaman anak yang relevan. Pelajaran tidak dipersepsi sebagai tugas atau paksaan, melainkan sebagai bagian atau alat yang dibutuhkan dalam kehidupan anak.
  3. Metode yang digunakan melibatkan peserta didik dalam aktivitas langsung dan bersifat bermain yang menyenangkan.
  4. Dalam proses belajar perlu diprioritaskan kesempatan anak untuk bermain dan bekerjasama dengan orang lain.
  5. Bahan pelajaran yang digunakan hendaknya bahan yang konkret.
  6. Dalam menilai hasil belajar peserta didik, guru tidak hanya menekankan aspek kognitif melalui tes tertulis, tetapi mencakup semua domain perilaku anak yang relevan dengan melibatkan sejumlah alat penilaian.

Demikian yang dapat dibagikan oleh penulis, kiranya Tuhan Yesus yang menjadi sumber hikmat bagi kita untuk mendidik anak-anak yang Tuhan percayakan ditengah-tengah kita. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi berkat bagi para pembaca.Tuhan Yesus memberkati.

Saat ini Penulis Melia adalah Salah Satu Pendidik Sekolah Tunas Pertiwi

Daftar Pustaka

  1. Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta. 2022
  2. https://pdfs.semanticscholar.org/3349/d1877909607b4f831ef6399d0db9f014efe2.pdf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!