Ketum PGI Gomar Gultom Tanggapi Hasil Pemilu 2024: Tokoh Agama Harus Terus Sampaikan Hal Etik Meski Didengar atau Tidak

Ketum PGI Gomar Gultom Tanggapi Hasil Pemilu 2024: Tokoh Agama Harus Terus Sampaikan Hal Etik Meski Didengar atau Tidak

Spread the love

Jakarta Pusat,jangkarpena.com – Bertempat di Kantor PGI Ghra Oikoumene, Jl. Salemba Raya No 1 Jakarta Pusat Pengurus Pusat PEWARNA Indonesia berkesempatan mengadakan perbincangan dengan Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Gomar Gultom terkait seputar pelaksanaan Pemilu 2024 yang telah berlangsung pada tanggal 14 Februari 2024 dan kini tengah dalam penghitungan suara yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI. Pertemuan tersebut berlangsung pada Selasa (20/2/2024) Pukul 11.00 WIB.

Hal tegas yang Gomar Gultom sampaikan adalah para Hamba Tuhan harus terus menyuarakan hal etik meski suara tersebut didengar atau tidak.

Menanggapi pelaksanaan Pemilu 2024 Ketum PGI Gomar Gultom memberikan apresiasi, “PGI memberikan apresiasi yang setinggi-tinggginya pada pelaksanaan Pemilu 2024 dan menyerahkan progresnya kepada KPU. Terkait permasalahan selisih hasil penghitungan suara yang terjadi maka ada mekanismenya silakan mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi,” ujarnya.

Kiranya kita semua sebagai Warga Negara Indonesia menjalankan hasil pemilu dengan standar yang ada. Kemungkinan dalam Pemilu kali ini sedikit mengubah pandangan para hamba Tuhan/pendeta tetapi Gomar Gultom yakin tidak ada masalah bagi gereja, karena pandangan yang berbeda merupakan kekayaan dan tidak harus memecah belah gereja dan ia yakin pasti akan terjalin kembali persekutuan seperti sedia kala. Oleh sebab itu Gomar Gultom berharap kepada media untuk dapat membantu mempercepat dalam terjalinnya kembali persaudaraan di tengah persekutuan jemaat.

Terkait para tokoh agama yang menyerukan hal etik namun nampaknya seperti tidak dipedulikan oleh para pelaku politik, Gomar Gultom menyatakan bahwa tugas para tokoh agama, budayawan terus menyuarakan hal etik dalam kehidupan berpolitik, berbangsa dan bernegara. Seruan etik walau nampaknya tidak didengar tidak menyurutkan suara tersebut harus didengungkan. Dan seruan etik harus terus dilakukan apakah nanti tidak didengar atau tidak, itu menjadi suatu tugas para tokoh agama, budayawan untuk terus menyuarakannya.

Di Negara Kesatuan Republik Indonesia Presiden merupakan Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan. Jika Kepala Negara tidak mendengar “lonceng bahaya” Kepala Negara harus merespons suara kenabian karena jika dibungkam maka Negara akan runtuh.

Suara kenabian yang disampaikan oleh para tokoh agama merupakan hal etis normatif, memang nampak seperti diabaikan pada saat pelaksanaan Pemilu, tetapi itu terjadi karena kepentingan. Oleh sebab itu jika tokoh agama abai terhadap penyeruan suara etik maka hal ini merupakan suatu yang berbahaya. Diyakini bahwa semua orang pasti memiliki kesadaran etik dan pasti suatu saat akan memahami dan menyatakan kebenarannya.

Saat ini pun nampak adanya arus balik yang lebih kuat, seakan kita mengabaikan agenda reformasi dan bahaya arus balik tidak bisa didiamkan harus disampaikan kebenaran atasnya.

Dan jika disinggung terkait dengan permasalahan kini apakah harus dilakukan lagi parlemen jalanan?Gomar Gultom berpandangan tidak harus lagi. Oleh sebab itu kembali lagi Gomar Gultom berharap kepada

media sebagai kontrol sosial harus berperan penting dalam mengupayakan seruan kebenaran tersebut.

Gomar Gultom menyampaikan, “Sebagai Ketum PGI kini saya harus ikut gerak langkah PGI tetapi prinsip kebenaran harus terus saya suarakan, prinsip itu tetap,” ujarnya.

Ketika ditanya terkait apa yang akan dilakukannya ketika purna tugas sebagai seorang Ketua Umum PGI dan Pendeta secara struktur di HKBP ia menyatakan,

“Jika tidak menjadi Ketum PGI, saya mempersiapkan diri untuk pensiun sebagai Pdt HKBP karena sudah memasuki masa emiritus, secara struktur telah berakhir, jika selesai tugas di PGI saya akan kembali gereja dan memasuki pensiun, dan sampai saat ini belum ada rencana apa-apa,” tegasnya.

Lanjut ia menambahkan, “Saya telah berdiskusi dengan Bapak Yusuf Mujiono, saya akan menjadi penulis biografi. Karena tatkala bertugas di PGI praktis tidak ada waktu untuk menulis dan saya akan banyak berteman dengan PEWARNA Indonesia,” ujarnya disambut dengan sukacita oleh para Pengurus PEWARNA Indonesia yang hadir.

Bahkan ia menegaskan, “Ingatkan saya jika sudah tidak memimpin sebagai Ketua Umum PGI agar tidak terjun ke dunia politik agar senantiasa dapat memberikan teladan yang baik kepada jemaat. Pendeta harus menjadi negarawan karena sifatnyan tidak memihak. Kalau beralih ke politik pasti akan menjadi tidak netral. Dan tugas Pendeta mempersiapkan warga gereja menjadi politisi handal, masa Pendeta bersaing dengan jemaat jika Pendeta terjun ke dunia politik?” tegasnya.

“Sebagai Pendeta kita harus berupaya bagaimana memfasilitasi jemaat untuk terjun ke dunia politik,” ujarnya.

Lebih lanjut Gomar Gultom menyampaikan, “Tidak layak pimpinan gereja menjadi politikus, karena akan menjadi saingan bagi jemaat dan dapat membuat perpecahan dalam tubuh jemaat,” ujarnya.

Acara tersebut ditutup dengan pembubuhan Buku Biografi Gomar Gultom yang diminta oleh yang hadir yang mendapatkan buku yang disunting oleh Ahmad Nurcholish dan Frangky Tampubolon dengan judul buku: Bersyukur dalam Karya, Pdt. Gomar Gultom di Hati Keluarga dan Sahabat. (red)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!