Kupat Tahu D’Sultan: Kiat Hadapi Fluktuasi Harga Kebutuhan Pokok

Kupat Tahu D’Sultan: Kiat Hadapi Fluktuasi Harga Kebutuhan Pokok

Spread the love

MAGELANG,JANGKARPENA.COM -Ana pemilik warung kupat tahu D’Sultan mengawali usaha kaki limanya sepuluh tahun lalu di pinggir jalan Bandongan – Kaliangkrik, Bandongan.

Awalnya sebelum berubah nama menjadi D’Sultan, warga Bandongan itu memberi nama usahanya sebagai kupat tahu Mas Pingku yang merupakan kependekan dari Kupat Tahu Masjid Pinggir Kuburan. “Karena waktu itu usaha kami memang dekat Masjid Kauman Bandongan di sebelah kuburan,” ungkapnya di tengah kesibukanya melayani pembeli.

Awal berusaha, pembelinya  hanya orang-orang di sekitar. Namun bersamaan dengan berjalannya waktu, para pejalan yang lalu lalang setiap harinya mulai ada yang tertarik mencicipi makanan khas Magelang, karya Ana.

Saat pembeli mulai banyak, tiba-tiba tempat usahanya terkena proyek pelebaran jalan. Ana pun harus mencari tempat berjualan yang baru. Dan sejak itu, ia harus menyewa rumah orang dan berpindah tempat hingga dua kali.

Ganti Nama

Ana mensyukuri meskipun harus berpindah-pindah tempat berjualan, namun pelebaran jalan Bandongan – Kaliangkrik itu ternyata semakin membuka akses menuju obyek wisata di Gunung Sumbing yang semakin populer.

Nama-nama seperti Nepal Van Java, Sukomakmur, Silancur highland, Mangli dan sebagainya bergema sampai jauh. Lalu lalang wisatawan bertambah.

Warung kupat tahunya pun semakin ramai dikunjungi turis dari dalam maupun luar Kabupaten Magelang meskipun tempat usahanya tidak luas.

“Alhamdulillah berkahnya Gusti Allah. Pengunjung makin banyak. Dari Sabang sampai Merauke. Apalagi pada masa libur. sampai kewalahan,” ujarnya.

Diantara para wisatawan itu, ungkap Ana, ada yang menyangka nama Mas Pingku itu dikira nama suami. Banyak yang memanggilnya dengan sebutan dik Pingku. Ketika dijelaskan mereka jadi ketawa.

“Ada juga wisatawan mancanegara yang datang. Diantaranya, Mr Fabian dan beberapa temanya dari negeri kincir angin Belanda. Setelah makan, turis itu  melalui pemandunya menyarankan nama usaha kupat tahu diganti dengan nama D’Sultan sesuai rasa, katanya. Usul itu diterima karena usaha kami memang tidak berdekatan lagi dengan Masjid dan Kuburan,” ungkapnya.

Terombang Ambing

Bagi Ana usaha kecil yang ditekuninya dirasakan bagai biduk kecil di tengah samudera luas. Terombang ambing oleh kenaikan harga harga berbagai bahan kebutuhan pokok silih berganti sejak setahun terakhir.

“Kemahalan itu datang bertubi tubi. Pertama beras, minyak goreng, gula, kubis, tahu. Kenaikan harga itu sudah bikin susah ditambah dengan sulitnya membeli LPG 3 kg pada saat menjelang lebaran. Terakhir bawang merah harganya naik gila-gilaan. Padahal bahan-bahan itu semuanya dibutuhkan untuk membuat kupat tahu. Padahal mengurangi bahan itu bisa mendegradasi kepuasan pembeli,” jelasnya.

Meski gelombang kenaikan harga datang bertubi tubi. Ana punya kiat khusus menghadapi kesulitan. yaitu dengan membeli di wilayah produksi yang kebih murah.

“Dengan cara ini ternyata harga jual kupat tahu dapat dipertahankan. Masih seperti dulu. Belum naik,” jelasnya.

Eko – Jangkarpena.com

Tinggalkan Balasan

All Rights Reserved 2023.
Proudly powered by WordPress | Theme: Refined News by Candid Themes.
error: Content is protected !!