PAGELARAN WAYANG GOLEK KRISTEN “BAMBANG NURCAHYA” SEBUAH GAMBARAN BAHWA KEBENARAN TETAP BERBUAH KEBENARAN

PAGELARAN WAYANG GOLEK KRISTEN “BAMBANG NURCAHYA” SEBUAH GAMBARAN BAHWA KEBENARAN TETAP BERBUAH KEBENARAN

Yogyakarta – Wayang adalah gambaran kehidupan manusia dan dalam kemanusiaan sebagai manusia. Jika kita mencermati bahwa setiap tokoh dan darimana asal tokoh tersebut, kita akan mendapatkan sekaligus karakter dari tokoh wayang tersebut. Bahkan di dalam setiap cerita atau lakon pewayangan menggambarkan pola kehidupan, mulai dari penyebab suatu gagasan, akibat dan solusinya untuk pelajaran dalam mengarungi kehidupan di dunia ini.

Lakon atau cerita Bambang Nur Cahya, adalah kisah yang menggambarkan bahwa kebenaran tetap sebuah kebenaran yang tidak dapat dimatikan, dan ketika hendak dimatikan justru menghasilkan kebenaran berikutnya. Inilah gambaran iman yang harus dimiliki setiap kita umat percaya, untuk tetap berjalan di dalam kebenaran bagaimanapun beratnya tantangan yang dihadapi.

Di dalam penderitaannya Ayub memberikan teladan kepada kita akan sebuah kepastian, tekad dan akibat yang diterimanya. “Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. Kakiku tetap mengikuti jejak-Nya, aku menuruti jalan-Nya dan tidak menyimpang. Perintah dari bibir-Nya tidak kulanggar, dalam sanubariku kusimpan ucapan mulut-Nya.” Ayub 23:1012. Akibatnya, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” Ayub 42:5.

Kemasan cerita pewayangan yang berdurasi dua jam tetap berpatokan kepada karya penebusan Kristus di kayu salib. Bahwa pengorbanan Yesus di kayu salib memulihkan hubungan antara manusia dengan Tuhan yang berdampak kepada pemulihan hubungan manusia dengan diri sendiri dan sesama. Akibatnya pemulihan seperti dalam Mazmur 133 digenapi di dalam kehidupan orang percaya sebagai penggenapan janji Allah.

Abah DANIEL PUJARSONO

DI KARANG TUMARITIS
Karang Tumaritis adalah tempat yang identic dengan Lurah Semar Badranaya bersama Cepot, Dawala dan Gareng putranya. Lurah adalah pemimpin yang langsung bersentuhan dengan masyarakat paling bawah. Sebagai putra tertua dari Sang Hyang Wenang, Semar seharusnya menjadi raja Triloka, yang justru dipegang oleh adik bungsunya Betara Guru dan Narada sebagai Mahapatih nya. Di Karang Tumaritis, Semar melambangkan sebagai kebenaran yang hadir dalam kebersahajaan namun tetap konsisten dengan komitmennya untuk mengabdi kepada kerajaan Amarta atau Indrapahasta, yang lebih dikenal dengan Pandawa Lima. Dimana ada Pandawa Lima, khususnya saat menghadapi permasalahan, disitu Semar selalu hadir menjadi solutif.

Dalam kisah Bambang Nurcahya, Semar mengajarkan bahwa kita bukanlah penduduk asli bumi ini melainkan juga penduduk sorga. Namun selama masih ada di dunia ini memiliki tanggung jawab untuk menjadi kepanjangan tangan Tuhan, memiliki tugas pokok untuk mengabdi kepada-Nya dengan talenta yang dipercayakan. Setiap upacara dan kegiatan bukanlah sebuah tradisi, melainkan harus nyata dalam “khutbah” hidup sehari-hari. Karang Tumaritis mengajarkan bagaimana kita harus teguh dalam prinsip namun lentur dalam beradaftasi. Ulah loba sayur tanpa bubur, loba kata tanpa nyata – hanya banyak bicara tanpa Tindakan nyata.

Arjuna yang biasanya selalu ada dalam bimbingan Semar (kebenaran) adalah seorang yang seringkali karena daya pikirnya yang “lebih” justru sering mudah disesatkan, termasuk dalam cerita ini. Arjuna tertipu dengan issu bahwa Semar yang mencuri Puntadewa (Darmakusumah) raja Pandawa sehingga di damping Butha memaksa untuk membunuh Semar sang “kebenaran” yang hadir di dalam kehidupan. Inilah pelajaran penting yang mulai mucul, selain guyonan yang disampaikan oleh Cepot, Dawala dan nayaga. Namun akhirnya bahwa dimanapun kebenaran selalu menghadapi tantangan, bahkan justru dari orang terdekat dan bahkan dari orang yang seharusnya mengemban kebenaran. Seorang pemimpin yang seharusnya menjadi teladan malah menampilkan sisi gelap kehidupannya, akibatnya kebenaran diabaikan dan bahkan diupayakan untuk dimatikan. Seketika seolah bisa dimatikan dan eforia kemenangan semu kejahatan menampilkan gejolak pengorbanan sang pembawa kebenaran yang diwakili oleh Semar, Cepot dan Dawala.

BAMBANG NURCAHYA
“Penganiayaan dan perlakuan terhadap kebenaran” baik itu secara halus maupun kasar, baik dari orang awam maupun dari yang seharusnya mengemban kebenaran seringkali menimbulkan luka yang mendalam bahkan tidak sediki yang kemudian menjadi kecewa terhadap kebenaran yang dipertahankan dengan ketulusan. Meskipun Tuhan dengan tegas mengatakan bahwa orang yang tulus dan jujur akan memiliki masa depan. Saat-saat kebenaran diberangus biasanya tidak ada yang berani muncul untuk menjadi pembela dan penghibur. Demikian juga dalam peristiwa di Karang Tumaritis, mereka seolah-olah ditinggalkan, tidak ada Gatotkaca yang biasanya hadir menjadi pembela dan bahkan dimana Sri Kresna, bukankah seharusnya hadir karena Kresna juga gambaran kebenaran yang mendampingi dan satu-satunya raja yang dipilih Pandawa saat perjanjian persiapan perang Baratayudha. Inilah juga yang dirasakan Cepot dan Dawala di saat kesedihan yang mendalam dan dalam ketidak berdayaan mereka. Dunia terasa gelap bukan karena mendung dan malam, namun karena ketidak mengertian dan keterbatasa manusia saat bertanya, “dimanakah Tuhan, dimanakah keadilan, kemana harus lari mengadukan dan mencari kebenaran, justru kebenaran hadir terbalik dengan ketidak benaran.”

Ketika Semar dibunuh dan jasadnya di bawa, disaat kejahatan berpesta dan bersorak kemenangan semu, ternyata kebenaran tidak dapat dimusnahkan. Tubuh Semar adalah “wadah” untuk yang bernama kebenaran, kebenaran itu sendiri tidak dapat dimusnahkan karena itu “karakter Ilahi” dan bukti kehadiran Tuhan di dalam kehidupan orang percaya pengemban kebenaran. Saat tubuhnya menjadi bait Roh Kudus, pasti menghasilkan buah-buah roh, dan saat tubuh jasmaniah ini dibongkar maka buah-buah yang dihasilkan itu akan terus berbuah dalam kehidupan generasi berikutnya. Kematian Semar dianggap sebagai jalan bahwa kejahatan akan berkuasa karena lambang kebenaran sudah dimatikan. Kebenaran bukanlah lambang, namun sebuah karakter kehidupan yang dihasilkan karena hidup yang benar.

Saat Astrajingga (Cepot – memiliki muka merah) dan Dawala alias Petruk sedang terpuruk tiba-tiba hadir Bambang Nurcahya yang mengaku wujud lain dari Semar. Awalnya kedua putra Semar tidak percaya karena sangat berbeda dengan Semar Badranaya yang mereka kenal, baru setelah menceriterakan asal-usulnya mereka percaya. Bukan hanya itu, beberapa waktu kemudian datang Bambang Nurgeni, Bambang Nurbanyu, Bambang Nurbumi dan Bambang Nurbayu. Nurcahya, Nurgeni, Nurbanyu, Nurbumi dan Nurbayu, adalah seluruh kepenuhan alam semesta , yakni cahaya, api, air, bumi dan angin. Kebenaran yang berbajukan Semar Badranaya ternyata tidak dapat dibunuh atau dimatikan, justru menjadi berlipat. Kebenaran tidak perlu dibela, karena kebenaranlah yang akan membela, sekalipun seketika terasa menyakitkan, pada akhirnya terbit “Pelangi” yang indah karena beraneka warna berpadu.

Pengajaran yang indah untuk kehidupan kita di zaman akhir yang semakin tidak menentu dan semakin digenapinya Firman Tuhan, menjelang kedatangan Tuhan akan datang masa yang sukar, manusia semakin mengasihi diri sendiri dan ibadah tidak ada kuasa karena hanya sekedar rutinitas belaka. Di saat seperti inilah justru kebenaran akan semakin dinyatakan, ketika orang percaya sepenuhnya berjalan dan hidup dalam kasih karunia. Mengamini, mengimani dan menghidupi setiap Firman Tuhan yang di dengar, sehingga dimampukan untuk menyaksikan kepada dunia karya Tuhan di dalam dan melalui hidupnya. Agama bukan hanya sekedar asesoris dan rutinitas, melainkan sebuah gaya hidup dan sikap hidup. Dalam kisah ini Bambang Nurcahya mengutus ke empat Bambang yang lain untuk langsung ke negara Awu-awu bertemu dengan rajanya dan memisahkan Arjuna di tempat tertentu., sementara Bambang Nurcahya Bersama kedua anak Semar mencari Butha.

Kemenangan yang semu mulai terungkap sebagai awal bahwa kebenaran selalu menang terhadap ketidak benaran. Tuhan pasti mempertemukan kepada Qarah-Nya, yakni waktu yang tepat, peristiwa yang tepat, orang yang tepat dan tempat yang tepat. Dalam kisah Bambang Nurcahya menterjemahkan kebenaran bahwa peperangan kita bukan melawan darah dan daging, melainkan melawan kuasa kegelapan. Patih Negara Awu-awu memperlihatkan arogansinya sebagai symbol kegelapan didukung oleh Butha yang mengalami peristiwa diluar nalar mereka, karena jasad Semar Badranaya yang sudah dipotong menjadi empat untuk mempermudah membawanya tiba-tiba hilang. Nalar berpikir mereka hanya berpusat kepada kesimpulan “yang penting Semar sudah mati.” Inilah gaya hidup yang dikuasai kegelapan, senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang.

Firman Tuhan menegaskan, jika orang benar jatuh tidak akan dibiarkan sampai tergeletak karena tangan Tuhan menopangnya dan seandainya tujuh kali mengalami kejatuhan, tujuh kali juga mengalami pemulihan. Setiap “jalan menurun” selelu akan membawa percepatan naik ke atas kepada kemenangan. Sewaktu Bambang Nurcahya, Cepot dan Dawala bertemu mereka, dengan bangganya kembali Cepot dan Dawala dilempar oleh Butha, tinggal menghadapi Bambang Nurcahya berdua. Qarah itu dating Kembali melalui Gatotkaca yang menangkap Cepot dan Dawala dan membawa ke tempat Bambang Nurcahya dalam kesiapan menghadapi dua raksasa kejahatan. Kebenaran mulai terungkap satu demi satu, karena Butha dikalahkan Gatotkaca dan berubah menjadi dewi Gedengpermoni, dewi yang memiliki nafsu keserakahan, kemudian Patih kerajaan Awu-awu dikalahkan Bambang Nurcahya dan berubah menjadi Drona, lambang kelicikan yang memang dekat dengan Arjuna sebagai murid kesangannya. Kata Tuhan, kita tidak usah takut karena penyertaan-Nya sempurna atas kita.

DI NEGARA AWU-AWU
Raja Awu-awu didampingi Butha ajudannya menjadi gelisah karena dua orang utusannya sudah sekian lama belum sampai juga, sekarang menerima berita bahwa Arjuna tiba-tiba hilang dari tahanannya. Kedatangan Bambang Nurbanyu, Nurbayu, Nurgeni dan Nurbumi yang hendak menangkapnya menjadi pelampiasan kemarahan sang raja, dengan kesaktiannya keempatnya di telan habis. Kejahatan tertawa, kebenaran seolah terbalik, namun kuasa Tuhan tetap melebihi semuanya dan rancangan-Nya tidak pernah gagal. Kebenaran tidak bisa dimatikan dan kegelapan tidak akan bertahan terhadap terang. Dari mulut sang raja keluar tubuh semar utuh, padahal yang ditelan empat orang. Di saat yang sama Bambang Nurcahya datang, masuk ke tubuh Semar dan lansung terjadi peperangan, raja Awu-awu berubah menjadi buah daging dan Butha pun tiba-tiba menghilang. Semar menyuruh Cepot dan Dawala membebaskan Darma Kusuma (Yudistira) dan membawa Arjuna berkumpul Bersama.
Setelah semua berkumpul Lurah Semar Badranaya menunjukkan fungsi keberadaannya di alam marcapada atau alam dunia ini sebagai pembimbing ke dalam kebenaran. Disini menunjukkan bahwa Semar bukan hanya wujud jasmaniah sebagai manusia, melainkan kebenaran yang hadir untuk senantiasa berada di pihak orang yang “benar”, dalam hal ini Pandawa Lima mewakili kehidupan orang benar sebagai umat pilihan Allah dimana kebenaran berpihak. Beberapa hal yang disimpulkan untuk menjadi pelajaran kehidupan tentang kebenaran yang akan berbuah kebenaran:

  • Meskipun Pandawa Lima adalah gambaran kehidupan orang benar bukan tanpa berbuat salah, melainkan selalu siap untuk dibenahi dan bertumbuh.
  • Jamus laying kalima sadha bukan untuk dipegang dan menjadi jimat yang dikeramatkan, melainkan harus dilakukan sehingga keyakinan bakan sekedar symbol dan atau asesoris melainkan harus dilakukan untuk menjadi buah dari kebenaran.
  • Grace atau anugerah bukanlah license to sin, melainkan mengajar orang untuk menghasilkan buah-buah keselamatan, dan itu merupakan tanggung jawab setiap orang percaya untuk dipakai menjadi kepanjangan tangan Tuhan menjangkau yang belum terjangkau.

Jika kita menginginkan kehidupan rohani yang terpelihara dengan baik, maka kita harus memiliki hidup integritas dengan Yesus, yakni tergerak oleh belas kasihan, punya hati yang tergerak oleh belas kasihan kepada jiwa-jiwa, memiliki tanggung jawab sebagai orang pilihan Tuhan karena Tuhan sudah melakukan yang terbaik untuk dirinya, dan mau mengembangkan talenta yang Tuhan percayakan sehingga hidup kita benar-benar menunjukkan karakter Kristus dan Tuhan Yesus dipermuliakan.

Oleh: Abah DANIEL PUJARSONO (310921262) 

DAFTAR PUSTAKA
Yarsama, Ketut. “Analisis Hermeneutik Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Naskah Drama Pewayangan ‘Sumpah Ramaparasu.’” Jurnal Pendidikan dan Pengajaran 47, no. 1 (2014). Accessed September 10, 2021. https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JPP/article/view/4628.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!