WAYANG PAPUA, PERPADUAN SENI TRADISI JAWA DAN CERITA RAKYAT SUKU MALIND PAPUA

WAYANG PAPUA, PERPADUAN SENI TRADISI JAWA DAN CERITA RAKYAT SUKU MALIND PAPUA

Spread the love

Yogyakarta – Ketika kita berbicara tentang Yokyakarta, yang ada di ingatan kita adalah kota Pendidikan dan Kota Budaya, dari mulai Berabad – abad Yogyakarta selalu menyimpan kekayaan budaya yang sangat menarik untuk di tuliskan maupun di ceritakan.

Dan Yogyakarta juga banyak didiami oleh seniman – seniman yang memiliki reputasi bukan saja nasional akan tetapi juga melegenda sampai kemancanegara.

Dan pada saat ini awak media yang tergabung di Pewarna Indonesia Propinsi DIY dapat berkesempatan bisa bertatap muka dan berbicara dengan seorang Seniman muda berbakat berdarah campuran Jawa – Papua yang bernama Lejar Dani Asrtana yang telah berhasil mengkreasikan Perpaduan antara budaya Jawa dengan Papua dalam bentuk kesenian Wayang.

Dari pengamatan awakmedia dari hasil kami berbincang – bincang bisa disimpulkan bahwa Pria berdarah Campuran Ayah yang berdarah Papua dan Ibu yang asli Jawa Ini dan memiliki panggilan Lejar adalah sosok Pria yang tegas dan cepat dalam mengambil keputusan, selain itu dirinya memiliki instituisi yang tajam dan teliti serta memiliki pertimbang yang matang.

Seniman Muda Berbakat ini berhasil mengkolaborasikan sebuah kesenian Wayang yang bermuara dari Dua Budaya berbeda yaitu Papua dan Jawa,dan hal ini memerlukan waktu untuk memperkenalkan kesenian Wayang model baru ini ketengah Masyarakat Indonesia.

Ketika ditanyakan oleh awak media dari mana lejar mengambil tema – tema cerita Pewayangannya dan lejar mengatakan bahwa dirinya mengambil cerita – cerita Suku rakyat Malind.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan saat ditemui di rumah seni dibawah komunitas Gulma yogjakarta, Lejar mengatakan bahwa, dalam perkembangannya, seni wayang dikategorikan dua jenis, yakni wayang tradisi, yang memiliki SOP, dan wayang kreasi, yang perkembangannya tergantung kreasi masing -masing pelakunya.

Memang Wayang adalah Seni tradisi yang awalnya tumbuh dan berkembang ditanah Jawa, namun dalam perkembangan tema – tema ceritera bisa diambil dari cerita rakyat suku Malind dan  Hal inilah yang di tekuninya,Namun seiring dengan perjalanan waktu, wayang harus memiliki cerita,” papar alumni ISI Yogyakarta, saat diwawancarai awak media Anggota Pewarna Indonesia Propinsi DIY Selasa, (12/7/2022).

“Maka di ambilah dari kumpulan buku cerita suku Malind yang disusunan oleh I J.Ndiken, ajaran suku Malind mengandung ajaran bagaimama merawat alam, menghargai sesama manusia, dan juga bagaimana  melestarikan kebudayaan. Ajaran tersebut pun banyak kesesuaian di jawa,” tuturnya.

Lebih lanjut disampaikan Lejar, saat pentas yang di selenggarakan pada tanggal 10 Juli 2022, di ruang komunitas Gulma Bantul, Yogyakarta, hal tersebut telah mampu menyedot banyak penonton terutama kaum muda atau Kaum Melenial di Yogyakarta

Lejar mengaku, usaha dalam memperkenalkan wayang Papua sudah lama di lakukan di berbagai daerah, bahkan sampai Mancanegara. Namun demikian Ia mengungkapkan bahwa, pro dan kontra masih tetap ada.

“Maka untuk menghilangkan kesalah pahaman tentang wayang Papua di ubah menjadi wayang Kaka Lejar, yang di sesuaikan dengan penciptanya,” terangnya.

Ia juga menambahkan, wayang Kaka Lejar yang merupakan wayang kreasi memang dominan dengan warna hitam, hal tersebut merupakan filosofi bahwa warna hitam bisa disandingkan dengan warna apa saja sehingga mampu menghadirkan keindahan dalam suatu seni.

“Kalau kita hidup penuh warna, jadilah warna yang bisa disandingkan dengan warna apapun,wooiiii…indah.pungkasnya

Wayang yang bersifat metafor adalah merupakan bukti cinta kita pada Papua,” pungkasnya (Agus – Arief Lie)

Tinggalkan Balasan

All Rights Reserved 2023.
Proudly powered by WordPress | Theme: Refined News by Candid Themes.
error: Content is protected !!