DIALOG INTERAKTIVE AGAMA DAN BUDAYA, GAYA DAKWAH GUSDURIAN MEMBANGUN TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA DI BANYUWANGI

DIALOG INTERAKTIVE AGAMA DAN BUDAYA, GAYA DAKWAH GUSDURIAN MEMBANGUN TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA DI BANYUWANGI

Spread the love

Banyuwangi Jangkarpena.com Gusdurian Banyuwangi menjadikan dialog antar agama sebagai bagian dari dakwahnya untuk memperkokoh kerukunan beragama yang membawa misi sebagai penguat keberagaman agama dan budaya di kabupaten paling timur pulau jawa.

Hal ini disampaikan oleh presidium Gusdurian Banyuwangi, Fathan Himami Hasan saat menggelar acara Dialog interaktif Agama dan Budaya. Berlokasi di Auditorium kampus Institut Agama Islam (IAI Ibrahimy Genteng) Banyuwangi, Jawa Timur acara ini berjalan dengan lancar.

Selain itu, dalam acara tersebut juga turut dihadiri oleh pengasuh rumah taklim ababil, Lukman Hadi Abdillah, Ketua Ikmass Banyuwangi, Miftahul Ulum,dan (Wakil Ketua Puskor Hindunesia), Eko Bandriono,SH serta wakil Badan musyawarah Gereja (Bamag) bidang pelayanan Banyuwangi, Rudi Tommy Kalangie, serta ketua selapan sastra, Eko Wahyu Pratama, dan seluruh peserta dari mahasiswa IAI Ibrahimy Genteng Banyuwangi.

Presidium Gusdurian Banyuwangi, Fathan Himami Hasan mengatakan sebagai komunitas yang mengedepankan semangat keberagaman, Gusdurian Banyuwangi akan terus berupaya menebarkan pesan kedamaian di bumi Belambangan.

“Sebagai penggerak Gusdurian Banyuwangi, tentunya visi dan misi kita bersama adalah membawa kerukunan beragama. Karena Gusdurian Banyuwangi di bangun dan digerakkan dengan semangat plularisme” kata Fathan, Kamis (17/6/2021).

Sementara itu, wakil Ketua PUSKOR HINDUNESIA kab Banyuwangi Eko Bandriono,SH menyampaikan peran agama dan budaya saling keterikatan dlm membangun komunikasi antar manusia serta lingkungan karena kita semua bersaudara yg selalu berhubungan dg yg lainnya, *wasudhaiva kutumbakam,- kita adalah bersaudara*.jelasnya.

Dari Pengasuh rumah taklim ababil, Lukman Hadi Abdilah juga menyampaikan peran budaya yang ada merupakan media dalam menjalankan tatanan masyarakat yang saling merangkul satu dengan lainnya.”Budaya bukan sekedar karya manusia. Tapi menjadi bagian dari perilaku manusia yg bertujuan menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan,” ungkapnya.

Tak lupa pula, wakil Bamag bidang pelayanan Banyuwangi, pendeta Rudi Tommy Kalangie mengungkapkan sikap pluralisme yang dicontohkan oleh Gus Dur merupakan acuan yang seharusnya bisa dilaksanakan oleh setiap pemuda di Banyuwangi.

“Andai anak bangsa mengikuti nilai pemikiran Gus dur. Mungkin bangsa ini akan menjadi surga kecil,” ungkapnya.

Terakhir dirinya berharap agar kegiatan dialog antar agama semakin masif dilaksanakan oleh Gusdurian Banyuwangi. Selain menjadi wadah untuk bersilaturahim, hal ini bisa menjadikan semangat keberagaman tumbuh dikalangan para generasi muda.(Kang Bandri/Jangkarpena.com)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!