Tangkal Ideologi Transnasional, Hadirkan Pancasila melalui Medsos

Tangkal Ideologi Transnasional, Hadirkan Pancasila melalui Medsos

Spread the love

Jakarta, Jangkarpena.com. Diskusi dengan tema Tantangan Ideologi Pancasila kembali digelar oleh Rumah Kebudayaan Nusantara (RKN) dengan menghadirkan aktivis Gusdurian, yaitu Guntur Romli dan Antonius Benny Susetyo, Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) .

Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan transnasional radikal, ungkap Guntur Romli.

Kita menghadapi tantangan ideologi transnasional radikal sangat gencar dan bahkan tidak bisa dihalangi karena adanya kemajuan teknologi,” Jelasnya.

Menurut Romli bahwa saat ini penyebaran paham radikal seperti ISIS sejak tahun 2011 sudah gencar menggunakan sosial media (sosmed).

Penyebaran paham isis dari tahun 2011 dengan melancarkan propaganda melalui media sosial dan menarik simpati dunia dengam media sosial,” ujar Romli.

Pada masa lampau, masyarakat belum sadar akan bahaya media sosial ini. Ini ancaman yang sudah terjadi, dan setelah sadar baru ada pembatasan di media sosial.

“Ada gerakan transnasional di Indonesia yang dibubarkan pada tahun 2017 yaitu HTI yang juga melakukan propaganda melalui media sosial,” tuturnya.

Ancaman transnasional radikal sudah terbukti baik dalam tindakan kekerasan seperti terorisme atau politik radikal yang ingin merubah Pancasila, UUD 1945.

“Mereka bergerak melalui media sosial karena kalau demo akan ada batasannya. Ponsel pintar juga sangat dekat dengan masyarakat,”tambah Romli.

Walaupun sudah dibasmi dan dibubarkan tetapi propaganda transnasional radikal ini sudah masuk ke dalam masyarakat.

Hal lain disampaikan oleh Benny Susetyo, menurutnya kemajuan teknologi tanpa adanya pemantapan ideologi adalah sebuah ancaman.

Teknologi tanpa memantapkan ideologi akan terancam dalan kehidupan sehari-hari. Pendidikan Pancasila juga sudah tidak ada, dan masuk transnasional radikal ini. Banyak yang memanipulasi nilai agama. Membenarkan kekerasan atas nama agama,” tutur Benny.

Benny menambahkan Generasi setelah 98 ini banyak yang tidak memahami Pancasila. Ini berbahaya dan harus segera dilakukan tindakan untuk mengatasinya.

“Generasi setelah 98 ini banyak yang tidak memahami Pancasila. Ini berbahaya dan harus segera dilakukan tindakan untuk mengatasinya,” tegasnya.

Lanjut Benny, Ini ancaman yang serius apalagi ketika media sosial sudah menjadi ancaman karena digunakan sebagai alat penyebaran dan propaganda.

Anak-anak bangsa ini mencintai bangsa dan negaranya. Mereka memerlukan role model dari para elite politik dan harus diberikan keteladanan dari role model tersebut dan berikan kepercayaan.

“Anak muda memiliki caranya sendiri untuk mempersatukan bangsa dan Pancasila diaplikasi dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Ideologi Pancasila harus dibumikan menjadi ideologi yang hidup dan praksis dalam masyarakat (APM)

Leave a Reply

error: Content is protected !!